Beritabogor24jam.com – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, menyerukan agar seluruh masyarakat memberikan penghormatan penuh kepada para guru pada momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2025.

Seruan itu mencuat sebagai respons terhadap semakin beratnya tantangan dunia pendidikan, sekaligus sebagai pengingat bahwa peran guru sebagai pilar utama pembangunan bangsa tidak boleh diabaikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Rudy usai memimpin upacara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 sekaligus Hari Ulang Tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (HUT ke-80 PGRI).

Upacara berlangsung khidmat di Lapangan Tegar Beriman, Cibinong, dan dihadiri ratusan tenaga pendidik dari berbagai wilayah Kabupaten Bogor.

Dalam agenda tahunan itu, Rudy menekankan bahwa peringatan Hari Guru Nasional bukan sekadar seremoni, melainkan momen refleksi bersama untuk menguatkan kembali penghargaan serta dukungan terhadap para pendidik.

Menurutnya, tuntutan masyarakat terhadap guru terus meningkat, sementara penghargaan terhadap profesi tersebut masih sering dianggap kurang maksimal.

Beratnya Tantangan Para Pendidik

Dalam kesempatan itu, Rudy menegaskan bahwa berbagai tantangan yang dihadapi guru semakin kompleks.

Transformasi digital, dinamika budaya, hingga persoalan sosial melahirkan tekanan baru yang harus dihadapi oleh para pendidik.

Guru dituntut untuk mampu beradaptasi dengan teknologi, memahami perubahan karakter murid, hingga menyesuaikan diri dengan perkembangan kurikulum yang dinamis.

“Guru dihadapkan tantangan sosial, budaya, moral, politik dan tuntutan masyarakat yang kian tinggi dan apresiasi yang rendah,” ujar Rudy kepada wartawan, Selasa, 25 November 2025.

Ia menambahkan, banyak guru yang masih menghadapi tekanan material, sosial, hingga mental.

Mereka dituntut untuk selalu tampil berwibawa dan percaya diri di hadapan para murid, sekalipun kondisi pribadi mereka tak jarang juga penuh tantangan.

Ketimpangan antara beban tugas dan penghargaan sosial inilah yang menurut Rudy harus segera diperbaiki.

Rudy kemudian mengajak masyarakat, khususnya para orang tua murid, agar lebih menghargai peran guru.

Dia menekankan, kinerja pendidik tidak dapat diukur semata-mata dari angka atau prestasi akademik.

“Saya menghimbau masyarakat, orang tua, dan seluruh pihak agar menghargai jerih payah para guru. Jangan hanya menilai kinerja dan menghakimi mereka dari angka-angka,” tegasnya.

Imbauan tersebut sekaligus sebagai pengingat bahwa guru adalah mitra penting dalam pendidikan anak, bukan pihak yang semata-mata dituntut memberikan hasil instan.

Apresiasi untuk Guru di Wilayah yang Luas

Dalam sambutannya, Rudy juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada guru-guru yang bertugas di wilayah Kabupaten Bogor yang sangat luas.

Kabupaten dengan 40 kecamatan, 416 desa, dan 19 kelurahan itu memiliki tantangan tersendiri dalam pemerataan pendidikan.

Banyak pendidik yang harus menempuh perjalanan jauh ke sekolah-sekolah terpencil.

Meski demikian, mereka tetap mengabdikan diri demi memberikan pendidikan terbaik bagi generasi muda Bogor.

Langkah Pemkab Tingkatkan Kesejahteraan Guru

Rudy memastikan, Pemerintah Kabupaten Bogor terus berupaya memperbaiki kesejahteraan tenaga pendidik.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menindaklanjuti kebijakan pusat terkait pegawai paruh waktu, yang sebagian besar merupakan guru honorer.

“Ya, jadi salah satu supportnya kita pertama menindaklanjuti pemerintah kebijakan pusat di mana pegawai paruh waktu mayoritas adalah para guru-guru. Kita sudah menetapkan kemarin 9 ribu orang lebih, di antara yang hampir 50 persennya adalah para guru,” jelasnya.

Ia berharap, pada 2026 kesejahteraan guru dapat meningkat seiring dengan penetapan mereka sebagai pegawai penuh waktu melalui skema P3K.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu memberikan stabilitas pekerjaan sekaligus rasa aman bagi para pendidik.

Selain peningkatan kesejahteraan, Pemkab Bogor bersama DPRD Kabupaten Bogor juga berkomitmen mempercepat perbaikan infrastruktur sekolah.

Banyak sekolah yang masih membutuhkan rehabilitasi, terutama di wilayah-wilayah pinggiran.

Rudy menekankan, pembangunan infrastruktur pendidikan membutuhkan proses dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu cepat.

“Tidak bisa dalam waktu satu tahun semuanya akan tuntas. Butuh waktu, tetapi waktu yang ada kita upayakan untuk melakukan percepatan-percepatan,” tutupnya.