Beritabogor24jam.com – Maraknya kasus pencabulan terhadap anak di Bumi Tegar Beriman belakangan ini memicu keprihatinan banyak pihak, termasuk Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Bogor.

Fenomena ini dianggap sebagai ancaman serius bagi keselamatan, kesehatan mental, dan masa depan generasi muda.

Wakil Ketua KPAD Kabupaten Bogor, Waspada, menegaskan pihaknya tidak tinggal diam dan akan terus mendorong langkah pencegahan serta penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak.

“Kami menyatakan prihatin atas maraknya kejadian pencabulan terhadap anak di Kabupaten Bogor,” ujarnya, Rabu, 24 September 2025.

Dalam keterangannya, Waspada meminta, aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap para pelaku, terutama jika pelakunya adalah orang dewasa.

Menurutnya, vonis yang berat akan memberikan efek jera sekaligus menjadi bentuk perlindungan hukum bagi anak-anak.

Selain itu, ia menegaskan, pentingnya memberikan pendampingan psikologis kepada korban.

“Korban harus segera mendapat pendampingan psikologis untuk mengurangi dampak traumatis,” tegasnya.

Peran Orang Tua dan Lingkungan

KPAD menilai, pengawasan dari orang tua dan lingkungan menjadi faktor kunci dalam mencegah terjadinya pencabulan.

Waspada menyebut, anak-anak harus selalu mendapat perhatian khusus dari keluarga maupun masyarakat sekitar.

“Orang tua dan masyarakat harus lebih meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak agar tidak menjadi korban kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual atau pencabulan,” katanya.

Sebagai langkah nyata, KPAD mendorong penerapan Program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) serta kampanye Lingkungan Ramah Anak (LRA) hingga tingkat RT, RW, bahkan desa.

Pihaknya juga menegaskan, langkah ini penting agar masyarakat secara kolektif bisa berperan aktif dalam melindungi anak.

“Keselamatan dan masa depan anak adalah tanggung jawab bersama. Mari kita jaga dan lindungi anak-anak kita agar terhindar dari segala bentuk kekerasan,” ujarnya.

Edukasi Anak dengan Bahasa Sederhana

KPAD Kabupaten Bogor sendiri aktif memberikan edukasi kepada anak-anak dengan pendekatan bahasa sederhana.

Hal ini dilakukan agar pesan yang disampaikan mudah dipahami dan diingat.

“Contoh yang gampang misalnya diajak orang yang tidak dikenal harus lari. Kalau ada yang kenal mendekat lebih baik lari atau teriak sekencang-kencangnya. Itu penting disampaikan kepada anak,” terang Waspada.

Selain itu, ia menekankan anak-anak harus memahami bagian tubuh vital yang tidak boleh disentuh orang lain, kecuali oleh dirinya sendiri atau orang tua.

Anak juga ditekankan agar tidak melakukan tindakan serupa kepada teman sebaya.

“Ini bagian dari edukasi supaya anak-anak tidak menjadi korban maupun pelaku kekerasan seksual,” jelasnya.

KPAD mengingatkan, banyak kasus pencabulan justru dilakukan oleh orang-orang terdekat. Hal ini membuat kewaspadaan orang tua dan keluarga semakin penting.

“Seringkali yang melakukan pencabulan itu orang dekat. Contoh yang terjadi di Ciampea kemarin itu kan orang dekat. Jadi jangan terlalu percaya kepada orang-orang terdekat, barangkali punya potensi melakukan kekerasan pencabulan,” ungkapnya.

Meski angka kasus masih tinggi, KPAD mengapresiasi keberanian orang tua yang sudah mulai berani bersuara dan melaporkan kasus yang menimpa anak mereka.

Menurut Waspada, sikap ini penting agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya.

“Alhamdulillah sekarang banyak orang tua sudah berani speak up anaknya jadi korban. Kalau nggak berani speak up, pelaku akhirnya akan terus melakukan hal yang sama,” katanya.