Beritabogor24jam.com – Film dokumenter Mama Jo karya sutradara Ineu Rahmawati berhasil menembus sejumlah festival internasional dan meraih berbagai penghargaan bergengsi.

Lewat film ini, Ineu menyoroti pentingnya pendidikan inklusif dan penanaman empati sejak dini agar anak-anak terhindar dari perilaku perundungan (bullying).

Dalam wawancara terbaru, Ineu menekankan, pentingnya mengajarkan anak tentang keberagaman sejak kecil.

“Dari segi bullying ya, ternyata untuk menanamkan supaya anak ini gak ngebully dewasanya, dari sedini mungkin diajari bahwa dunia ini tuh gak cuman teman-teman kita tuh gak cuman yang melengkap kayak kamu gitu. Ada yang kadang, maaf ya, gak punya tangan, gak punya kaki. Jadi itu tuh harus kita kasih tau gitu loh. Ada dunia ini diverse gitu, dunia ini bermacam-macam gitu kan,” ujar Ineu memberikan keterangan.

Ia menambahkan, anak-anak dapat belajar empati dengan membantu teman-teman yang memiliki keterbatasan, termasuk mereka yang menderita cerebral palsy.

“Aku pengen pemerintah hadir. Jangan lupakan mereka, makanya itu sudah tertuang di undang-undang,” tambahnya.

Berawal dari Kisah Nyata di Bogor

Ineu mengungkapkan, ide pembuatan Mama Jo berawal dari ketertarikannya pada pendidikan inklusif.

Pada 2023, saat mengikuti ajang Eagle Awards, ia dihadapkan pada tema dampak pandemi Covid-19.

“Aku kan suka menulis tentang orangnya. Akhirnya aku pilih pendidikan, terus mikir pendidikan apa yang bisa dikembangkan jadi sebuah cerita. Waktu itu ada dua daerah yang bisa diangkat, Bogor dan Papua,” katanya.

Pilihan akhirnya jatuh ke Bogor setelah mengetahui kisah Johan, seorang anak dengan cerebral palsy, melalui unggahan WhatsApp Story dari Bu Siti, tantenya yang juga guru di sekolah Johan.

Dari sana, riset pun dimulai, termasuk wawancara dengan keluarga Johan dan pengumpulan data terkait pendidikan inklusif.

“Sebenarnya berawal dari story WA itu. Dari situ lah subjeknya cocok, Bu Siti dan Johan,” ujar dia.

Ineu mengaku, proses penulisan dan pengembangan cerita memakan waktu berbulan-bulan.

Pihaknya bahkan, membiasakan Johan dengan kehadiran kamera agar proses syuting berjalan lebih natural.

“Film dokumenter butuh estetika cinematografi. Aku ingin film ini bagus, jadi saya godok ceritanya sampai tiga bulan, interview lagi, benar-benar meneliti kegiatan Johan sehari-hari,” ungkapnya.

Prestasi di Kancah Internasional

Mama Jo sendiri pertama kali diputar pada 7 Mei 2024 di Tokyo, Jepang, sebelum kemudian menembus sepuluh negara lain, seperti Serbia, Bulgaria, Denmark, Belgia, India, Kosovo, Yunani, Malaysia, dan Budapest.

Film documenter tersebut juga mendapatkan perhatian dari Kemenlu, serta diliput oleh media internasional dan nasional.

“Sebenernya pas Golden Family, itu reach out Kemenlu. Itu sampai di portalnya, sampai banyak direpos sama wartawan-wartawan lah ya. Cuman kan itu tidak mengangkat Kabupaten Bogor ya, again dibalik lagi ya mengangkat Indonesia-nya lah ya. Itu banyak direpos di beberapa media juga, media lah Indonesia, Bulgaria, sama kayak pas aku di Serbia juga,” ungkap Ineu.

Sejumlah penghargaan berhasil diraih, di antaranya International Documentary dari Aceh Film Festival, Special Jury Mention di Serbia, serta Best Inspiring Documentary di Golden Premiere Film Festival, Bulgaria.

Film ini juga masuk nominasi Film Dokumenter Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2024 untuk Piala Citra.

“Ancaman film itu besar banget dibanding kemarin aku menang di Golden Family Film Festival,” ujarnya menegaskan.

Pesan dari Mama Jo

Menurut Ineu, Mama Jo membawa pesan penting dari berbagai sisi, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga parenting.

“Misalnya dari sisi pendidikan tuh of course kita pengen semua sekolah menerima anak-anak bisa berbeda. Karena apa, karena kita lihat kondisinya yang Johan merasakan. Bayangin Johan rumahnya disantun, kayak perjalanannya 1,5 jam satu kali berangkat untuk seorang Johan buat dapet pendidikan di sekolah SLB,” jelasnya.

Film ini juga menyoroti peran penting seorang ibu dalam keluarga.

“Padahal kalau mau tahu ceritanya bapaknya tuh memang jarang ada di rumah karena dia supir. Tapi kita bisa lihat bahwa ibu itu perannya ternyata sangat penting dalam sebuah keluarga dia lah yang membentuk karakter anak,” tambah Ineu.

Rencana ke Depan

Meski telah melanglang buana, Ineu berharap Mama Jo bisa diputar lebih luas di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah.

“Sebenarnya program kedepannya sih pengen memaju ini bisa diputar di seluruh Indonesia di sekolah. Misalnya dinas pendidikan daerah Bogor atau dinas pendidikan daerah lainnya. Aku pengennya sih semua orang bisa nonton ini sih,” pungkasnya.