Beritabogor24jam.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mengeluarkan peringatan terkait meningkatnya potensi bencana longsor di kawasan Puncak.
Peringatan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya mitigasi menghadapi cuaca ekstrem yang belakangan semakin sering terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya.
Kawasan Puncak, yang dikenal sebagai destinasi wisata favorit sekaligus daerah dengan kontur tanah yang curam, dinilai memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam, khususnya longsor.
Penelaah Teknis Kebijakan BPBD Kabupaten Bogor, Damar Adi Hartaji, menegaskan, tiga kecamatan utama di wilayah Puncak masuk dalam kategori zona rawan.
Menurutnya, lokasi-lokasi tersebut memiliki karakteristik geografis yang membuat risiko longsor semakin besar ketika intensitas hujan meningkat.
“Rawan longsor untuk di wilayah puncak itu hampir tiga kecamatan itu rawan, dari Cisarua, Megamendung, terus Ciawi itu masing-masing punya potensi untuk bencana longsor,” ujar Damar, Sabtu (06/12/2025).
Faktor Geografis dan Alih Fungsi Lahan
Selain berada di kawasan perbukitan yang rentan pergerakan tanah, keberadaan daerah aliran sungai (DAS) turut memperparah risiko bencana.
Damar menjelaska, kondisi kontur tanah yang labil bisa semakin memburuk apabila penataan ruang tidak dilakukan dengan bijak. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi kawasan Puncak adalah maraknya alih fungsi lahan.
“Sebenarnya kalo untuk diminimalisir itu salah satunya itu dengan penghijauan karena biasanya kejadian longsor itu karena sudah alih fungsi. Yang tadinya ada pohon, sekarang beralih fungsi jadi kebun sayur atau dialihfungsikan menjadi pemukiman,” kata Damar.
Alih fungsi lahan dianggap mengurangi daya serap tanah dan melemahkan ikatan akar yang sebelumnya berfungsi menahan struktur tanah.
Ketika hujan deras mengguyur kawasan tersebut, risiko tanah bergerak atau runtuh pun menjadi semakin besar.
Untuk mengurangi risiko jangka panjang, BPBD mendorong aksi kolaboratif antara pemerintah dan pelaku industri pariwisata di kawasan Puncak.
Termasuk di antaranya pengusaha hotel, restoran, dan pengelola destinasi wisata.
Upaya penghijauan disebut menjadi langkah penting meskipun manfaatnya tidak dapat dirasakan secara instan.
“Salah satunya dengan PHRI kemarin Ecanting Valey dan beberapa hotel di sepanjang DAS Ciliwung ikut menanam,” tuturnya.
Namun Damar mengingatkan bahwa hasil dari program penghijauan baru bisa dirasakan dalam jangka panjang, karena bibit pohon memerlukan waktu untuk tumbuh dan memiliki akar yang cukup kuat untuk mengikat tanah.
Seiring meningkatnya potensi longsor, BPBD juga menyerukan masyarakat di wilayah dataran tinggi untuk lebih waspada dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Kehadiran masyarakat sebagai garda terdepan dinilai penting untuk mengurangi dampak bencana.
“Himbauan untuk masyarakat mulai mengenali lingkungan sekitar, menjaga lingkungan sekitar, potensi longsor itu jauh lebih tinggi, yang pasti harus peduli dengan lingkungan,” tegasnya.










