Beritabogor24jam.com – Kematian tragis bocah berusia enam tahun bernama M. Arassya Alfarik di Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini menyisakan misteri dan kejanggalan.

Awalnya, pihak keluarga menyebut penyebab kematian korban adalah demam tinggi, namun pengakuan seorang pemandi jenazah bernama Sugeng membuka fakta lain yang mencengangkan.

Sugeng, yang telah bertugas sebagai pemandi jenazah sejak tahun 2017, mengaku menemukan sejumlah luka mencurigakan di tubuh bocah tersebut saat melakukan proses pemandian sebelum dimakamkan di TPU Kalang Anyar, Desa Rawa Panjang, Bojonggede.

Dalam keterangannya, Sugeng menceritakan dirinya terkejut ketika melihat kondisi tubuh korban.

Saat membuka kain penutup jenazah, ia menemukan sesuatu yang tidak biasa di bagian mulut bocah itu.

“Saya buka tutup kainnya, saya dapetin sebuah sumpel di mulut berupa tisu. Itu sepertinya untuk mencegah darah keluar lebih banyak karena ternyata ada luka robek di bagian bibir bawah,” ujar Sugeng.

Temuan tersebut langsung membuatnya curiga. Meskipun dalam formulir kematian disebutkan penyebab meninggal dunia karena panas tinggi, Sugeng merasa ada sesuatu yang tidak sesuai antara data dan kondisi fisik jenazah yang ia hadapi.

Data Kematian Tak Sesuai dengan Kondisi Jenazah

Menurut keterangan Sugeng, pihaknya sempat berkoordinasi dengan pihak keluarga sebelum proses pemandian.

Namun, semakin lama ia memeriksa tubuh korban, semakin banyak luka yang ditemukan dan menimbulkan tanda tanya besar.

“Saya nggak tahu ibu yang ada di situ ibu sambung. Di form yang saya terima itu status meninggalnya anak karena disebabkan panas tinggi. Saya pegang data itu, maka proses memandikan saya cek dulu jenazah, saya dapatin ada beberapa luka atau lebam di berbagai tubuh yang mengundang pertanyaan saya, mengundang keinginan pengetahuan saya untuk bertanya-tanya ini kenapa,” ungkapnya.

Kecurigaan Sugeng makin kuat setelah ia menanyakan asal-usul luka tersebut kepada ayah korban.

Jawaban yang diterimanya dianggap tidak masuk akal dan menambah kejanggalan dalam kasus ini.

“Saya tanyakan kepada bapaknya, yang kebetulan saya ajak untuk memandikan jenazah, ketika saya tanya kenapa lebam. Bapaknya jawab karena kejedot pintu dan karena jatuh di kamar mandi. Jawaban itu saya sebut menjadi keanehan, karena tugas saya hanya memandikan jenazah sampai selesai, luka yang saya lihat saya abaikan, makannya pertanyaan itu tidak saya kejar lagi,” tuturnya.

Meski begitu, rasa tidak tenang masih menghantui Sugeng. Sebagai pemandi jenazah berpengalaman, ia mengaku belum pernah melihat luka dan kondisi tubuh yang semacam itu pada anak seusia korban.

Kejanggalan semakin terasa ketika proses pengkafanan selesai. Sugeng mengaku terkejut saat menyentuh bagian kepala belakang korban.

“Ketika jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafankan, saya lebih terkejut ketika memegang kepala bagian belakang, karena bagian kepala belakang banyak benjolan-benjolan yang besar membuat kepala nggak berbentuk dan setiap benjolan ada luka sobeknya,” ungkap dia.

Keterangan ini memperkuat dugaan bahwa kematian bocah tersebut tidak disebabkan oleh sakit biasa, melainkan ada unsur kekerasan yang dialaminya sebelum meninggal dunia.

Setelah proses pemulasaran selesai, jenazah dibawa ke tempat pemakaman.

Sugeng mengaku, sudah menawarkan layanan ambulans gratis dari yayasan tempatnya bekerja. Namun, tawaran tersebut ditolak oleh pihak keluarga.

“Sudah saya tawarkan juga untuk membawanya menggunakan ambulans, karena yayasan kami punya ambulans dan gratis. Namun bapaknya menolak dan dibawa menggunakan motor,” katanya.

Penolakan itu membuat Sugeng merasa semakin tidak tenang. Sebab, menurutnya, ada yang aneh dalam cara keluarga memperlakukan jenazah sang anak.

Dalam perjalanan menuju TPU, kegelisahan Sugeng semakin menjadi. Ia merasa ada sesuatu yang salah dalam kasus ini, namun terikat oleh etika profesinya sebagai pemandi jenazah.

“Namun di tengah perjalanan ke TPU, ada kegundahan di hati saya. Karena kondisi jenazah tidak wajar, karena etika pemandi jenazah itu tidak boleh menceritakan apapun yang dilihat ketika memandikan. Untuk mengantar jenazah dua motor, hanya dihadiri pihak keluarga,” tandas Sugeng.

Meski awalnya memilih diam, Sugeng akhirnya memberanikan diri mengungkapkan fakta-fakta mencurigakan yang ia temukan.