Beritabogor24jam.com – Kasus tragis kematian bocah berusia enam tahun bernama M. Arassya Alfarik di Bojonggede, Kabupaten Bogor, kini mulai menemukan titik terang.
Setelah melalui proses panjang penyelidikan dan ekshumasi, Polres Metro Depok akhirnya mengungkap motif di balik dugaan penganiayaan keji yang dilakukan oleh ibu tiri korban.
Informasi mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Metro Depok, Kompol Made Gede Oka Utama, usai proses pembongkaran makam korban di TPU Kalang Anyar, Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojonggede, Kamis, 23 Oktober 2025.
Dari hasil pemeriksaan dan pengakuan tersangka, penyidik menemukan bahwa kekerasan yang menyebabkan tewasnya bocah malang itu dilatarbelakangi oleh alasan sepele.
Motif Pelaku
Kompol Made menjelaskan, motif pelaku muncul dari rasa jengkel terhadap sikap korban yang dianggap membangkang.
Dalam pengakuannya, pelaku mengaku sering emosi ketika anak tirinya tidak mau menuruti perintah, terutama saat disuruh makan atau ketika meminta uang jajan.
“Pertama adalah berdasarkan keterangan si tersangka atau pengakuan, tidak menuruti apa keinginan dari si tersangka. Kadang disuruh makan tidak mau, kadang korban juga beberapa kali meminta uang jajan tidak diberi, akhirnya, tersangka melakukan tindak kekerasan kepada korban,” ujar Kompol Made kepada wartawan.
Keterangan itu memperkuat dugaan bahwa tindak kekerasan dilakukan berulang kali, bukan hanya satu kali kejadian.
Kekerasan tersebut akhirnya menyebabkan luka serius yang berujung pada kematian korban.
Penyidik Dalami Kondisi Kejiwaan Pelaku
Meski pelaku telah mengakui perbuatannya, polisi belum berhenti sampai di situ. Penyidik Polres Metro Depok masih mendalami kondisi kejiwaan ibu tiri korban.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan apakah pelaku memiliki gangguan psikologis atau bertindak dalam keadaan sadar penuh.
“Kita masih dalam proses pemeriksaan. Kami melihat tersangka cukup baik menjawab setiap pertanyaan penyidik. Namun, nanti akan kita sampaikan apakah perlu dilakukan pemeriksaan kejiwaan atau tidak,” tuturnya.
Penyelidikan kejiwaan ini dianggap penting mengingat motif yang terungkap terkesan tidak rasional, sebab kekerasan terjadi hanya karena alasan sederhana seperti korban tidak mau makan atau meminta uang jajan.
Selain mengusut motif, polisi juga menelusuri kemungkinan adanya faktor hubungan darah sebagai pemicu perlakuan kasar. Pelaku diketahui bukan ibu kandung korban.
Namun, hingga kini penyidik belum bisa memastikan apakah hal tersebut turut menjadi penyebab utama kekerasan.
Beberapa saksi juga menyebut, korban kerap mengalami perlakuan kasar bahkan sebelum meninggal dunia.
Luka-luka yang ditemukan di tubuh korban saat proses ekshumasi pun memperkuat dugaan bahwa kekerasan terjadi berulang kali.









