Beritabogor24jam.com – Bupati Bogor, Rudy Susmanto, mengaku bangga sekaligus terinspirasi oleh keberhasilan sineas muda asal Citeureup, Ineu Rahmawati.
Menurutnya, capaian Ineu membuktikan karya sederhana dari kampung pun bisa berdiri sejajar bahkan melampaui karya internasional.
Rudy pun mengajak Ineu untuk berkolaborasi membuat film dokumenter yang mengangkat kisah perjuangan para pengajar dan pelajar di Kabupaten Bogor.
Dalam keterangannya, Rudy menuturkan banyak kisah menarik yang layak diangkat dalam film dokumenter.
Dia mencontohkan anak-anak sekolah di Citeko yang masih harus menumpang truk untuk berangkat belajar.
Ada juga kisah seorang guru dengan kondisi disabilitas, hanya memiliki satu kaki, namun tetap mendedikasikan diri untuk mengajar anak-anak.
Selain itu, Rudy juga menyinggung perjuangan pelajar di wilayah Bogor Barat, khususnya di Malasari.
Setiap hari, mereka harus berjalan kaki sejauh dua kilometer untuk sampai ke sekolah.
Tema Perlindungan Perempuan dan Anak
Rudy menambahkan, program Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) juga bisa dijadikan tema film dokumenter.
Program tersebut berfokus pada perlindungan keluarga dan anak, terutama terkait kasus kekerasan terhadap perempuan.
Rudy menilai, tema itu sangat relevan untuk mengedukasi masyarakat luas.
“Kalau berkenan kita berkolaborasi, ini menjadi suatu kehormatan. Buat kami orang Citeureup, hasil karyanya diakui dunia dan Pemkab Bogor juga bisa mengedukasi masyarakat untuk berkolaborasi bersama,” ujar Rudy, Kamis, 18 September 2025.
Sosok Ineu Rahmawati
Sosok Ineu Rahmawati sebelumnya telah mengharumkan nama Kabupaten Bogor di kancah internasional.
Film dokumenternya berjudul Mama Jo sukses meraih penghargaan Best Short Documentary 2025 di ajang bergengsi Golden FEMI Film Festival, Bulgaria.
Festival tersebut diikuti 3.023 film dari 120 negara, mulai dari Eropa, Amerika, hingga Asia.
Namun, yang berhasil menjadi juara adalah karya sederhana dari kampung di Citeureup.
Lebih membanggakan lagi, Mama Jo sudah lebih dulu menembus panggung internasional.
Film yang mengisahkan perjuangan seorang ibu mendampingi anaknya yang hidup dengan cerebral palsy ini pernah diputar di Serbia melalui ajang Bosifest.
Kemudian, masuk nominasi di Yunani lewat Reflection of Disability Festival, hingga sempat tembus ke Festival Film Indonesia 2024.
Dari gang kecil di Citeureup, kisah ini berhasil melintasi benua, menyentuh hati penonton lintas negara, dan membuat dunia menoleh kagum.
Dengan pencapaian Mama Jo yang mampu melintasi benua dan menginspirasi dunia, Pemerintah Kabupaten Bogor berharap karya-karya dokumenter serupa dapat terus lahir dari anak muda daerah.










