Beritabogor24jam.com – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) menyebut, peningkatan kebutuhan daging akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga ayam potong di Kabupaten Bogor.

Kepala DKP Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menjelaskan bertambahnya dapur MBG yang setiap hari membutuhkan pasokan daging ayam dalam jumlah besar membuat ketersediaan di pasar menjadi terbatas.

“Karena banyaknya MBG di Kabupaten Bogor, dapur MBG sudah banyak di Kabupaten Bogor sehingga memang daging ayam dibutuhkan untuk mensuplai makanan terhadap siswa-siswa yang penerima manfaat dalam program MBG,” ujar Teuku Mulya kepada Beritabogor24jam.com.

Teuku Mulya menambahkan, pola distribusi ayam yang banyak terserap ke dapur MBG membuat pasokan di pasar tradisional berkurang.

Hal ini, lanjut dia, menjadi salah satu faktor kenaikan harga ayam di pasaran.

“Ini analisis sementara, sehingga daging ayam di pasar susah, sehingga harga naik,” jelasnya.

Langkah Pemerintah untuk Menstabilkan Harga

DKP Kabupaten Bogor sendiri mendorong pemerintah mengambil langkah konkret untuk mengendalikan harga, salah satunya melalui operasi pasar dan kerja sama dengan pemasok luar daerah.

“Pemerintah seharusnya melakukan operasi pasar terlebih dahulu untuk stabilkan harga. Kedua, pemerintah nanti melalui Dinas Ketahanan Pangan melihat kelangkaannya seperti apa kemudian melakukan kerja sama luar daerah agar bisa memenuhi kebutuhan Kabupaten Bogor. Misalnya, dengan Pasar Induk Kramat Jati agar mereka melakukan penjualan ayam di Kabupaten Bogor,” terang Teuku Mulya.

Meski begitu, ia menegaskan, pengendalian harga tetap menjadi kewenangan Dinas Perdagangan dan Industri (Disdagin).

“Terkait harga kewenangannya ada di Disdagin, jadi nanti mereka melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga karena terjadi inflasi. Nanti mereka bekerja sama dengan TNI Polri kita dan sebagainya untuk melakukan operasi pasar,” ujarnya.

Dia membeberkan, lonjakan harga ayam bukan disebabkan oleh faktor pakan, melainkan karena kebutuhan yang jauh melampaui pasokan.

“Iya, bukan naik karena pakan, tapi karena kebutuhannya besar kemudian langka di pasar, karena diborong semua di MBG kan. Kemudian di pasar jadi langka, sehingga harga di pasar naik,” tegasnya.

Kondisi ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana Kabupaten Bogor justru memiliki stok ayam berlebih. Kini, dengan banyaknya dapur MBG yang beroperasi, permintaan ayam melonjak drastis.

“Bayangkan satu dapur 3.000 sampai 4.000 siswa. Katakanlah ada 100 dapur saja, berarti 4 juta tuh,” pungkasnya.