Beritabogor24jam — Di tengah gempuran tren viral dan konten instan, masih adakah ruang bagi literasi untuk didengar? Jawabannya: ada—dan jawabannya bergema lantang dari sebuah aula sederhana di SMK Walisongo 2 Depok.
Hari itu, ratusan pelajar dan mahasiswa berkumpul, bukan untuk konser atau hiburan musiman, tapi untuk satu tujuan: membicarakan literasi.
Seminar bertajuk “Literasi Out Loud” digagas oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi semester 6 sebagai bagian dari tugas akhir mereka. Tapi yang terjadi jauh melampaui sekadar memenuhi nilai akademik. Mereka menciptakan ruang diskusi yang hidup, berenergi, dan sangat relevan dengan dunia anak muda masa kini.
Dua tokoh muda hadir sebagai pemantik semangat:
Asyiffa Zahra, penulis muda buku “Speechless Atas Kuasanya”, berbagi kisah menulis di tengah distraksi digital. Ia membuktikan bahwa tulisan tetap punya tempat, bahkan di era scroll dan swipe.
Fadlu Serius, komika dan kreator konten edukatif, membawa gelak tawa sekaligus pesan: “Literasi bisa dibawa dengan cara yang kamu suka, asal isinya tetap bermakna.”
Peserta diajak masuk ke dunia yang menggabungkan buku dan digital. Ada sesi bedah buku, talkshow ringan tapi mendalam, permainan interaktif, hingga pelatihan singkat tentang menghasilkan uang lewat affiliate marketing. Di sini, literasi bukan soal teori—tapi tentang aksi.
“Kami ingin anak muda tahu bahwa menulis, membaca, atau membuat konten bukan sekadar hobi. Ini bisa jadi kekuatan untuk bersuara, bahkan jalan karier,” ujar salah satu panitia melalui keterangannya, Minggu (22/6).
Meski digagas oleh mahasiswa, acara ini terasa sangat profesional. Dengan dukungan dari JakCloth, Timezone, dan media partner seperti StandUp Indo Depok, Gradien Mediatama, serta BeritaBogor24Jam.com, seminar ini menunjukkan bahwa kolaborasi anak muda bisa berdampak besar.
Lebih dari seminar, Literasi Out Loud adalah gerakan. Gerakan yang meyakinkan generasi muda: kamu boleh suka TikTok, YouTube, atau podcast—asal kamu tahu apa yang kamu sampaikan, kamu sedang ikut membentuk dunia.
Karena di era digital ini, bersuara bukan pilihan. Itu kebutuhan. Dan literasi adalah senjatanya.(***)










