Beritabogor24jam.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor telah menjalin komunikasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) terkait perpanjangan rute KRL Commuter Line hingga ke wilayah Jasinga.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengungkapkan pihaknya telah melakukan komunikasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) serta Dirjen Perkeretaapian terkait rencana tersebut.
Ia menegaskan, Pemkab Bogor telah menyampaikan usulan resmi dan kini tengah menunggu rancangan teknis dari pihak KAI.
“Sekarang saya sudah komunikasi dengan Dirjen Perkeretaapian, membuka komunikasi lah biar itu sesuai dengan rancangan dari mereka, karena mereka juga punya rencana induk transportasi kalo udah sama seiring sejalan,” kata Ajat kepada wartawan.
Menurut Ajat, sinergi antara pemerintah daerah dan KAI menjadi kunci utama agar proyek strategis ini dapat terwujud.
Pasalnya, wilayah Bogor Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan jaringan transportasi massal, terutama untuk mendukung mobilitas masyarakat sekaligus menekan angka kemacetan di jalur darat.
Alternatif Jalur yang Sedang Disiapkan
Lebih lanjut, Ajat menjelaskan bahwa pihaknya bersama KAI tengah mempertimbangkan beberapa alternatif rute. Salah satunya adalah jalur dari Stasiun Tenjo menuju Jasinga, dan opsi lainnya melalui Stasiun Parung Panjang–Rumpin–Jasinga.
“Jadi beberapa alternatif tuh, ada yang memang ditarik dari Parung Panjang tapi menuju ke Rumpin masuk ke area tambang terus kemudian baru ke Jasinga,” jelas Ajat.
Alternatif rute ini, lanjutnya, dipertimbangkan dengan memperhatikan kondisi geografis dan potensi wilayah yang akan dilalui.
Jika rencana ini terealisasi, maka jaringan KRL akan menjangkau kawasan Bogor Barat yang selama ini belum tersentuh oleh moda transportasi massal berbasis rel.
Rencana perpanjangan jalur KRL ini juga tidak hanya menyasar peningkatan akses transportasi penumpang.
Namun, dirancang untuk menjadi solusi terhadap persoalan angkutan tambang yang kerap menjadi sorotan di wilayah Bogor Barat.
Ajat menilai, keberadaan jalur rel baru dapat dimanfaatkan ganda, yakni untuk mengangkut hasil tambang sekaligus melayani penumpang umum.
Dengan begitu, beban kendaraan tambang di jalan raya dapat dikurangi, sementara masyarakat juga mendapat alternatif transportasi yang lebih cepat dan efisien.
“Kenapa itu? salah satunya adalah angkutan tambang itu bisa digunakan angkutan kereta api, tapi tetep dipake untuk angkutan penumpang,” ungkapnya.










