Beritabogor24jam.com – Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Barat, Herman Suryatman, menegaskan Pramuka Jawa Barat akan memperkuat program mitigasi bencana menyusul tingginya jumlah bencana di wilayah tersebut sepanjang 2025.

Dalam kondisi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim, peran Pramuka sebagai elemen masyarakat yang sigap di lapangan dianggap semakin penting.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Herman yang juga menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, sesaat setelah melantik jajaran pengurus Pramuka Kabupaten Bogor periode 2025–2030.

Momentum pelantikan tersebut sekaligus menjadi awal komitmen baru Pramuka Jawa Barat untuk memperkuat kesiapsiagaan di berbagai daerah rawan bencana.

Menurut Herman, tingginya frekuensi bencana harus menjadi alarm bagi semua pihak untuk meningkatkan kesiapan, terutama para anggota Pramuka yang selama ini dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kebencanaan.

Herman menegaskan, tugas Pramuka kini semakin besar. “Sebagaimana arahan Gubernur Jabar, Kang Dedi Mulyadi, kita fokus untuk membantu bencana alam lingkungan yang saat ini terjadi,” ujarnya kepada wartawan, Kamis, 11 Desember 2025.

Hingga November 2025, Jawa Barat mencatat 1.432 kejadian bencana. Mayoritas berasal dari banjir dan longsor yang dipicu tingginya curah hujan dan kondisi geografis daerah.

Dalam data tersebut, terdapat 75 korban jiwa, sekitar 600 ribu warga terdampak, dan lebih dari 15 ribu rumah rusak akibat bencana hidrometeorologi.

Situasi ini menempatkan Jawa Barat sebagai salah satu daerah dengan intensitas bencana tertinggi di Indonesia.

Sejumlah wilayah seperti Bandung, Bandung Barat, Karawang, dan Subang bahkan kini berada dalam proses pemulihan akibat dampak bencana yang terjadi berulang.

“Itu yang menjadi konsen kita semuanya, kami juga sedang mempersiapkan sinergi dengan semuanya,” ungkap Herman.

Sinergi Pramuka dan Pemerintah untuk Relokasi Warga

Selain membantu penanganan bencana secara langsung, Pramuka Jawa Barat juga menyiapkan sinergi bersama pemerintah daerah untuk membantu relokasi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.

Relokasi tersebut diprioritaskan untuk warga yang tinggal di zona merah atau wilayah yang tidak lagi aman untuk dihuni.

Pendekatan kolaboratif antara Kwarda, Kwarcab, dan pemerintah setempat disebut menjadi kunci percepatan pemulihan pascabencana.

Pramuka akan memperkuat peran dalam pendataan lapangan, distribusi logistik, serta koordinasi penanganan tanggap darurat.

Tidak hanya fokus pada bencana di Jawa Barat, Pramuka Jabar juga menunjukkan solidaritas bagi korban bencana di luar daerah.

Mereka membuka open donasi untuk membantu korban longsor dan banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Bantuan yang dikumpulkan berasal dari 27 Kwarcab dan dihimpun langsung oleh Kwarda Jawa Barat.

“Yang terkumpul dari 27 Kwarcab bersama Kwarda akan kita kirimkan langsung ke Aceh. Kita akan buka posko di lokasi yang paling berat di sana dan ada perwakilan dari Kwarda dan Kwarcab untuk membantu warga kita yang ada di Aceh,” tandas Herman.